7 Hal yang Dikerjakan Dosen selain MENGAJAR

Ery1wDPowZ
https://img.okeinfo.net/content/2014/09/13/373/1038619/Ery1wDPowZ.jpg

Kebanyakan orang berpikir bahwa seorang dosen itu tugasnya hanya mengajar atau memberikan materi di dalam kelas, namun sebenarnya dosen juga memiliki beban kerja lain selain mengajar. Berikut 7 hal yang umumnya dikerjakan dosen selain mengajar:

  1. Menyiapkan Rencana Pembelajaran Semester

Ketika saya masih menjadi mahasiswa, saya berpikir bahwa dosen hanya menyiapkan materi presentasi menggunakan Ms.Power Point. Namun ternyata lebih dari itu, seorang dosen ketika mengampu suatu mata kuliah, dosen diwajibkan untuk membuat Rencana Pembelajaran Semester atau biasa disebut RPS. Di dalam RPS akan tertera secara jelas kompetensi apa saja yang harus dicapai mahasiswa untuk mata kuliah tersebut. Selain kompetensi, di dalam RPS juga terdapat informasi mengenai daftar acuan yang digunakan (buku, jurnal, atau sumber lainnya), topik pembelajaran, peta capaian mata kuliah, metode pembelajaran, durasi waktu, sampai bobot penilaian. Jadi kalau kita sedang jalan-jalan, RPS itu diibaratkan ittenary perjalanan.

  1. Memeriksa Tugas Mahasiswa

Tugas lainnya tak kalah penting adalah memeriksa tugas mahasiswa. Untuk tugas yang satu ini, banyak atau sedikitnya tergantung pada masing-masing dosen. Biasanya dosen akan menyesuaikan dengan rubrik penilaian yang telah di buat sebelumnya. Kadang ni ya, mahasiswa berpikir dosen senang kalau memberikan tugas pada mahasiswa, padahal sebenarnya memberikan tugas pada mahasiswa itu sama saja menambah pekerjaan dosen.

  1. Menyiapkan Soal Ujian dan Memeriksa Hasil Ujian

Ujian dilakukan untuk mengevaluasi apakah capaian yang dibebankan pada mata kuliah sudah tercapai apa belum. Sebagai seorang dosen, menyiapkan soal ujian tidak bisa dilakukan serta merta, karena soal ujian yang dibuat harus disesuaikan dengan capaian-capaian yang ingin dicapai pada mata kuliah. Hal ini berarti sewaktu akan membuat soal ujian, dosen harus membuka kembali RPS yang telah dibuat, agar soal yang dibuat benar-benar dapat mengevaluasi capaian yang diinginkan.

  1. Menjadi Pembimbing Akademik

Pembimbing Akademik dapat diibaratkan sebagai Wali Kelas ketika kita bersekolah dulu. Pembimbing akademik ditugaskan untuk membimbing mahasiswa selama proses perkuliahan. Biasanya akan dijadwalkan waktu untuk bimbingan akademik. PAda saat bimbingan mahasiswa diperkenankan untuk berdiskusi atau bertukar pendapat tentang akademik selama perkuliahan, bahasa gaul nya adalah curhat.

  1. Menjadi Pembimbing Skripsi

Setiap kampus memiliki kriteria agar seorang dosen bisa menjadi pembimbing tugas akhir atau skripsi. Nah apabila dosen yang bersangkutan sudah memenuhi kriteria, maka dosen tersebut akan diberi tugas untuk membimbing mahasiswa yang sedang tugas akhir. Membimbing mahasiswa yang sedang tugas akhir, berarti secara tidak langsung ikut juga dalam penelitian mahasiswa tersebut. Sedikit banyak, pembimbing skripsi juga memberikan masukan, arahan, dan motivasi agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Biasanya mahasiswa akan mengingat pembimbing skripsi nya meski sudah lulus. apalagi dosen pengujinya. hahahahah

  1. Melakukan Penelitian

    laptop-2557615_960_720
    https://pixabay.com/id/laptop-mac-komputer-browser-2557615/

Pekerjaan dosen yang satu ini jarang diketahui oleh mahasiswa, padahal penelitian merupakan salah satu dari Tri Dharma Perguruan TInggi yang harus dan bahkan wajib dikerjakan oleh dosen. Penelitian ini dilakukan sebagai bentuk mengasah kedalaman ilmu seorang dosen. Penelitian yang dilakukan dosen ini diharapkan juga dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Setelah penelitian selesai dilaksanakan maka seorang dosen diwajibkan untuk mempublikasikan hasil penelitiannya ke dalam berbagai bentuk seperti seminar Ilmiah maupun jurnal ilmiah.

  1. Melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat

Tri Dharma Perguruan TInggi yang ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat. Dosen juga punya kewajiban untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Pengabdian ini dapat dikemas dalam berbagai bentuk seperti sosialisasi, pelatihan, dan juga pembinaan. Pengabdian dosen dilakukan sesuai dengan bidang ilmu nya.

Ternyata dosen tidak hanya mengajar di kelas kan? Banyak hal lain yang harus dikerjakan oleh seorang dosen. Hal-hal tersebut di atas masih hal-hal yang bersifat teknis, belum yang tidak terlihat seperti tanggung jawab moral untuk mendidik mahasiswa, dan jalan-jalan (ini khusus buat saya) 😀 😀 😀 

 

Iklan

5 Tipe Mahasiswa Pemikat Hati Dosen

654670579-high-school-lecturer-chalk-blackboard
Sumber: http://footage.framepool.com/shotimg/qf/654670579-high-school-lecturer-chalk-blackboard.jpg

Saat ini saya berprofesi sebagai Dosen Prodi Sistem Informasi, Selama kurang lebih empat tahun menjadi dosen, berbagai tipe mahasiswa telah saya temui di kelas. Di antara banyaknya tipe mahasiswa yang pernah saya temui, berikut adalah tipe-tipe mahasiswa yang selalu terkenang di hati. Ya meski terkadang saya sulit mengingat nama, namun mahasiswa dengan tipe di bawah ini selalu mendapatkan ruang khusus dalam hati saya. Asyik.:D

  1. Mahasiswa yang aktif ketika pembelajaran

Sebagai Dosen, saya paling senang kalau ada mahasiswa yang aktif selama pembelajaran. Aktif disini maksudnya aktif berdiskusi mengenai materi ajar. Dengan adanya timbal balik diskusi mahasiswa, maka pembelajaran menjadi dua arah, dan saya juga bisa melihat sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi ajar. Ya meski terkadang ada juga mahasiswa yang bertanya untuk menguji, atau muncul juga pertanyaan-pertanyaan di luar materi. Dan yang paling sering. “Bu, kapan kita pulang?”

  1. Mahasiswa yang mau berusaha untuk belajar/menyelesaikan tugas

Nah, tipe mahasiswa seperti ini terkadang memang membuat repot, karena akan menyita waktu. Mahasiswa dengan tipe seperti ini akan berulang kali bertanya mengenai tugas yang diberikan. Harapannya pasti mendapatkan hasil tugas yang maksimal. Namun, di balik itu, sebagai seorang dosen, saya akan memberikan catatan tersendiri untuk mahasiswa seperti ini. Karena ini menunjukkan keseriusannya dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

  1. Mahasiswa yang ramah dan sopan

Idealnya setiap orang akan menyenangi sikap ramah dan sopan dari orang lain. Saya punya pengalaman yang tak terlupakan ketika ada seorang mahasiswa yang menyempatkan diri datang mengantarkan sendiri surat izin di saat istrinya mau melahirkan. Padahal dia seandainya mahasiswa tersebut mengirimkan SMS, maka akan saya terima. Yang lebih membuat terharu, mahasiswa ini berumur jauh di atas saya.

  1. Mahasiswa yang rapi dan wangi

Mahasiswa yang selalu rapi dan wangi bisa juga mencuri perhatian saya sebagai dosen. Rapi dalam berpenampilan membuat saya merasa nyaman ketika memandangnya. Dan wangi bisa memanjakan indra penciuman. Mahasiswa tipe ini saya harapkan menduduki bangku-bangku depan, sayangnya kebanyakan mereka terselip di antara teman-temannya.

  1. Mahasiswa yang lucu

Di antara banyak nya tipe mahasiswa, saya akan sangat berterima kasih dengan tipe Mahasiswa yang lucu. Lucu disini bisa diartikan sebagai mahasiswa yang berperilaku sehingga membuat orang lain tertawa. Hal ini karena mahasiswa dengan tipe ini akan menjadi pencair suasana kelas yang terkadang sudah kusut. Nah, mahasiswa yang lucu akan selalu menjadi idola di kelas.

“Meski begitu, saya menerima kalau setiap mahasiswa unik dan spesial. Yang punya keunggulannya masing-masing”

Namun karena keterbatasan, hanya beberapa mahasiswa yang teringat dan terkenang. Tipe di atas tentunya tidak mutlak, karena setiap dosen memiliki preferensi berbeda terhadap tipe mahasiswa yang akan diingat.

Untuk mahasiswa, menjadi yang terkenang di hati dosen bukanlah yang utama, meski kadang wajah menentukan nilai. Hahahahaha. Namun yang terpenting adalah bagaimana proses pembelajaran dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuan sebagai calon-calon sarjana. 😀

Batam, 11 Januari 2018

Steffi Adam

Travelling Ketika Galau Melanda

Tergelitik dengan pertanyaan ” Kalau ko galau, trus travelling, sebenarnya berdampak gak si sama masalah yang dihadapi? ”

To be honest, gak ngefek…

Maksudnya enggak berdampak langsung ke masalah yang dihadapi.

Pada beberapa masalah ada kemungkinan kita pergi sejenak kemudian masalah kita diselesaikan orang lain. Tapi di masalah yang lain, hal ini belum bisa terjadi. Apalagi masalah yang dihadapi bersangkutan dengan hal pribadi di diri kita.

Masalah yang terjadi itu adalah tanggung jawab kita untuk menyelesaikannya.

Well, terus apa dampak travellingnya. Menurut pengalaman saya, travelling di saat bermasalah itu sebenarnya hanyalah salah satu cara untuk  me time atau biasa disebut waktu untuk diri sendiri.

20150514_130432
Sumber: doc pribadi penulis; Loc: Puncak Munara, Rumpin, Bogor

Nah, kegunaan me time ini adalah merelease kembali semua tentang diri kita yang sudah tegang diterpa berbagai macam pemikiran, pertimbangan, dan segala macam rupa dari masalah yang ada. Ibarat Mesin ni, orang yang bermasalah itu seperti mesin yang sudah bekerja lama dan mesin nya sudah panas di atas panas yang seharusnya. Untuk itu, mesin nya perlu di dingin kan kembali, untuk memaksimalkan kinerja nya.  Begitu juga dengan diri kita.

Melalui me time, diri yang tadi nya sudah “penuh” atau “panas” bisa menjadi kembali dingin atau istilah nya tenang. Dari ketenangan ini lah, kita bisa mulai mengurai permasalahan yang terjadi untuk mengambil suatu keputusan yang terbaik.

Kalau Kata orang ambillah keputusan itu ketika tenang. 

Lalu apakah me time harus dengan Travelling? Menurut saya si enggak harus. Yang penting sediakan waktu untuk sendiri, untuk bisa sejenak melepaskan segala tentang masalah yang ada.

Meski sampai saat ini saya belum menemukan cara lain yang lebih mengasyikkan daripada me time dengan travelling, saya yakin pasti ada cara untuk me time tanpa travelling. Kita bahas di next tulisan ya. 🙂 🙂 🙂

Batam, 08.12.2017

-SA-

Lets Learn, Write, Success and Share It

 

 

Lima Alasan Kenapa Nulis Lagi

Blog ini terakhir di isi tulisan Februari 2016, Berarti Lebih dari 1 tahun sudah vakum. Ckckckck, jangan ditiru ya…

Well, Setelah sekian lama vakum menulis, entah kenapa menjelang akhir tahun ini muncul kembali niat untuk menulis. Kenapa ya kira-kira?. Baiklah melalui tulisan pembuka ini saya akan tuliskan 5 alasan yang memotivasi saya untuk menulis lagi. Semangat 🙂 🙂 🙂

  1. Menulis itu ibarat Berdoa

Menulis ibarat berdoa, ini pengalaman pribadi. Ketika saya duduk di bangku SMA, saat itu saya galau untuk memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran atau teknik informatika. Di saat bersamaan saya mendapat tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk membuat cerpen. Pada saat itu saya membuat cerpen dengan alur flash back menceritakan tentang seorang gadis yang mengenang kembali bagaimana dia akhirnya mengikuti usulan orang tuanya untuk mengambil jurusan teknik informatika demi membahagiakan orang tuanya. Cerpen ini dibuat sekitar tahun 2007, saat saya duduk di bangku kelas XI SMA. Tepat Juni 2013, saya diwisuda menjadi sarjana Sistem Informasi, ya gak jauh2 amat dari Teknik Informtika masih sama-sama Ilmu Komputer. Bukan hanya wisudawan biasa tapi wisudawan terbaik. Yaps Tulisan itu menjadi doa, pada saat menulis cerpen tadi sebenarnya saya memposisikan diri sebagai si gadis. Mau coba, Silahkan 😀

  1. Menulis itu merilis emosi

Writing for Healing. Pernah di suatu ketika saya merasa dalam keterpurukan. Berbicara pun rasanya malas dan tak didengar. Maka yang saya lakukan adalah menulis semua hal yang tidak menyenangkan di berlembar-lembar kertas. Sampai saya lelah dan berhenti dengan sendirinya. Ajaibnya, setelah itu saya baca kembali satu per satu, ada perasaan tenang di dalam hati saya. Alhamdulillah. Pernah juga saya mengeluarkan emosi dengan cara mencoret2 kertas sampai saya merasa cukup dan emosi pun terlepas. Coba deh sesekali kalau lagi kesel, tulis aja... 😀

  1. Menulis itu menginspirasi

Kalau yang satu ini sepertinya sudah banyak contoh di pasaran, sebut saja Andrea Hirata melalui Laskar Pelangi nya, Kemudian Anwar Fuadi dengan trilogi Negeri 5 negara, kemudian deretan penulis ternama lain nya yang berhasil menginspirasi melalui tulisan-tulisannya. Sekarang seiring canggihnya zaman, tulisan bisa dikemas dalam bentuk status singkat yang bisa di share di media sosial. Sesekali rasanya gak ada salah nya kita posting tulisan/quote yang menginspirasi.

  1. Menulis itu sumber rezeki

Sebenarnya saya mau nulis sumber penghasilan, tapi tetiba teringat sumber rezeki aja deh. Karena rezeki itu tidak hanya penghasilan, tapi teman baru; ilmu baru; cerita dan pengalaman baru juga merupakan rezeki kan?. Saya pernah nulis sesuatu emang gak dapet duit, tapi dapet nya teman cerita baru. Yang akhirnya nambah semangat untuk berbagi.

  1. Menulis itu abadi

Mengutip kata seorang bijak “Kalo kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Tapi kalau kamu ingin dikenal dunia, Menulislah” . JK Rowling terkenal melalui cerita Harry Potter yang ia ciptakan. Meski orang tidak mengenalnya secara langsung, namun dari tulisannya dikenal dan abadi dalam ingatan orang.

Ya, di akhir tulisan. Terselip harapan agar saya bisa konsisten menulis. Bukan hanya sekedar curhat tapi curhat yang bisa menginspirasi. Terkadang kan dari cerita orang kita bisa belajar banyak hal. Kalau ada yang baik ya silahkan diambil. Kalau banyak yang salah. Yuk diskusi bareng, namanya juga manusia banyak salahnya, yang penting mau terus belajar.

Salam curhat inspiratif;

Steffi

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak … Part 3 (Habis)

Seusai menikmati pengalaman pertama mendaki gunung (baca:Naik atau Turun ), trip masih berlanjut. Saya dan rombongan harus berjalan kaki sekitar 30 menit untuk sampai di gerbang Desa Sembungan, tempat mobil kami terparkir. Udara masih juga berkabut dan dingin.

Jpeg
Gerbang Desa Sembungan, Desa tertinggi di Pulau Jawa

Sekitar 15 menit berjalan dengan mobil, rombongan sampai di komplek Candi Arjuna. Komplek Candi Arjuna cukup luas dan dikelilingi oleh pemandangan gunung nan menawan  dan menyejukkan mata :D. Saya beristirahat sebentar kemudian mulai berjalan mengitari komplek Candi Arjuna.

IMG_3667.JPG
Komplek Candi Arjuna, Dieng

Saat mengitari komplek Candi Arjuna, mata saya tertuju pada seekor kuda yang sedang makan rumput. Tanpa ragu saya pun menghampiri kuda tersebut. Senangnya saya ketika mengetahui bahwa kuda tersebut bisa di sewa untuk mengelilingi perkebunan di sekitar komplek Candi Arjuna. 😀 😀 😀

Selama dua puluh menit saya menaiki kuda putih yang bernama “Si Putih”. Awal nya saya ditemani oleh si penjaga kuda. Namun beberapa saat sebelum turun, saya berhasil mengendarai sendiri Si Putih… Ayeee 😀 😀 😀

Jpeg
Saya dan Si Putih 🙂 🙂 🙂

Puas mengeksplore komplek Candi Arjuna, perjalanan dilanjutkan menuju Batu Pandang. Bayangan saya mengenai Batu Pandang salah. Perjalanan menuju puncak batu pandang ternyata kurang lebih sama dengan mendaki puncak gunung. Beda nya, untuk menuju puncak Batu Pandang, jalur pendakian sudah berupa tangga dan beberapa meter jalan setapak yang terawat. Kanan kiri nya pun bukan jurang. (Kalau jurang, saya tidak jadi naik 😀 ) .

Pendakian yang cukup melelahkan tersebut itu lagi-lagi terbayar dengan pemandangan di puncaknya. Telaga warna terlihat jelas dari Batu Pandang tersebut. Masya Allah, Bahagia, Takjub dan Syukur memenuhi perasaan saya. Karena takut terpeleset, saya memilih untuk foto dalam keadaan duduk saja. (Masih sayang nyawa) ahahahahhaha 😀

IMG_3680
Berusaha tersenyum, Walau hati Dag Dig Dug 😀 😀 😀

Batu Pandang adalah destinasi objek wisata yang terakhir. Hiks 😥

Tiba saatnya untuk kembali ke homestay dan melakukan persiapan pulang. Sekitar pukul 10.30 rombongan tiba di homestay. Saya  dan anggota rombongan yang lain berkemas dan bersiap untuk pulang.

Sambil menunggu mobil yang akan membawa kami pulang, saya duduk di ruang tamu menikmati dinginnya udara Dieng yang masih agak berkabut ditemani secangkir teh hangat.

Tiba-tiba Kak Jessy, salah satu rombongan menghampiri saya dan beberapa orang yang duduk di ruang tamu homestay

“ Eh, ada yang punya simcard Simpati gak ?” Sambil menjelajah pandang ke satu per satu orang yang berada di ruang tamu.

“ Ini ada kak, pake aja. Ada sinyal kok, Penuh. “ Tangan saya menyodorkan Handphone yang sempat saya beli sebelum pergi ke Dieng

Ehmmm… “ Kak Jessy bergumam

“ Gak apa2 kak, pake ajah. Pulsa nya masih ada kok. Telpon aja kak … ” sembari semakin mendekatkan HP tersebut ke arah Kak Jessy

Enggak, enggak apa-apa. Aku mau pinjam untuk tethering …” Dengan wajah yang agak sulit diungkapkan

Jlebbb…  Ohh… Gak bsa ya kak pake HP ini… “ memandang iba Handphone tinut-tinut ini…

Hiks 😥  (rasa tindu gagdet tiba-tiba menyeruak… Iphone ku… Tab S ku … 😥 😥 😥  )

Isnia dan Mas Thoriq yang duduk di dekat saya menahan tawa. . .

Keingat lagi dech abis kecopetan...

But,

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak….

Kalau tidak kecopetan mungkin saya tidak akan merasakan seru nya arung jeram (baca: Sedih sedikit, Bahagia Banyak… Part 1 ), Indahnya sunrise di Puncak SiKunir (baca: Naik atau Turun ), dan Menawannya pemandangan komplek Candi Arjuna serta Telaga Warna dari Batu Pandang … 😀 😀 😀 Alhamdulillah…

Well, apapun kejadiannya, tetaplah memilih untuk Bahagia. TAMAT

-SA-

Lets Learn, Write, Success and Share It

*Terima kasih untuk semua yang menjadi kenangan bahagia… Special to Mas Thoriq dan Isnia. 🙂

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak… Part 2

Setelah memacu adrenalin di jeram sungai Serayu (baca: Sedih Sedikit, Bahagia Banyak… Part 1) dan makan siang, rombongan bergerak menuju Dieng. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Dinginnya udara terasa sesaat ketika Memasuki kawasan Dieng, saya yang tadi nya enggan menggunakan jaket, segera mengenakan baju penghangat tersebut. Setibanya di gerbang, rombongan berhenti sebentar untuk berfoto bersama.

IMG_3463
Rombongan Open Trip Dieng, (Belum semua, namun sudah mewakili) 😀

Homestay kami terletak sekitar 500m dari gerbang tersebut. Setelah berfoto, rombongan menuju homestay untuk meletakkan barang-barang dan istirahat sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan mengunjungi beberapa objek wisata yang telah direncanakan.

Gardu Pandang  Tieng dengan ketinggian 1789 MDPL adalah tujuan pertama setelah makan siang. Bahagianya saya bisa berada di tempat ini. Masya Allah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bila di Pantai berteriak menjadi salah satu alternatif menikmati keindahannya, maka di sini yang bisa saya lakukan adalah menghirup udara dalam-dalam, tersenyum selebar mungkin dan berfoto tentu nya. Hujan yang turun menambah dinginnya udara dan sama sekali tidak mengurangi kesegaran udara. (Gagdet hilang, bukan halangan untuk berfoto, lebih asyik ternyata).

Jpeg
Komentar Isnia “Yiw, sama sekali gak nampak kek orang abis kecopetan” 😀 😀 😀

Waktu juga yang membatasi keberadaan saya di Gardu Pandang ini. Tujuan kami selanjutnya adalah Dieng Plateau Theater. Dieng Plateau Theater adalah semacam bioskop mini yang memutar film sejarah asal muasal Dieng, dan juga daerah di sekitarnya. Walaupun saya tidak menyukai film dokumenter, namun rasa penasaran membuat saya menikmati film berdurasi 30 menit tersebut dari awal sampai akhir. Lumayan menambah wawasan saya tentang sejarah salah satu wilayah di Indonesia. Keluar dari theater, kami disambut oleh hujan gerimis. Hujan yang turun tak menyurutkan niat saya untuk mengabadikan momen di Dieng Plateu Theater ini. Tak lupa saya juga mencicipi kuliner di sekitaran Dieng Plateau yaitu jamur crispy dan kentang goreng khas Dieng. Makan teruss 😀 😀 😀

Jpeg
Ketika hujan tidak menjadi penghalang berfoto 🙂 🙂 🙂

Karena hujan yang semakin deras, ketua rombongan memutuskan segera kembali ke homestay dan menikmati makan malam di sekitaran homestay. Mie Ongklok adalah menu yang saya pilih untuk mengisi perut di malam hari. Mie ongklok merupakan makanan khas Dieng yang cocok sekali dinikmati di tengah dingin nya udara malam hari. Sayang, saya tidak bisa foto, karena pakai Handphone tinut-tinut 😥

Seusai makan malam, rombongan kembali ke homestay untuk istirahat dan menyiapkan diri menjemput keindahan terbitnya mentari pagi dari puncak SiKunir (baca: Naik atau Turun ).

Bahagia ini juga masih belum maksimal, masih ada bahagia lain setelah ini… 🙂 🙂 🙂

-SA-

Learn, Write, Success, and Share

*Terima kasih lagi untuk semua yang terlibat dalam cerita ini… 🙂 🙂 🙂

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak … Part 1

Seorang mahasiswi yang telah beberapa kali menginjakkan kakinya di ibukota, KECOPETAN. Iphone 5 dan Galaxy Tab S miliknya berpindah tangan ke pencopet di atas metro mini. Bingung, gelisah, duduk, dan terdiam. Beberapa kali ia hanya mendengar cerita kejamnya transportasi di ibukota, dan baru kali ini dia merasakan nya sendiri. Cuaca pun seakan mendukung, rintik-rintik air hujan mengiringi langkahnya menuju salah satu kamar kos, tempat tinggalnya selama di Ibukota.  Ya kali ini dia merasakannya sendiri, dia lah saya. Segera terlintas dalam benak, saya sudah resmi berkuliah di Jakarta, Ayee 😀

Saat itu, saya tercatat sebagai mahasiswi semester akhir program studi Magister Manajemen Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara yang sedang menempuh tesis. Kedatangan saya ke Jakarta kali ini, untuk menemui dosen pembimbing berkenaan dengan tesis yang saya ambil. Karena sudah kecopetan, saya pun urung untuk bimbingan. Ketika akan mengabarkan hal tersebut ke dosen pembimbing, ternyata bak gayung bersambut dosen pembimbing saya ternyata juga sedang mengikuti conference dan tidak berada di kampus. Sedih??? Sedikit 😥

Ketika bingung mau ngapain di Jakarta, Isnia menawarkan open trip ke Dieng. “Udah yiw, kapan lagi ke Dieng, mumpung ada kesempatan. Budgetnya sama aja kayak ko tinggal disini 3 hari“. Setelah berpikir sejenak, saya mengangguk setuju. Tak lupa, sebelum berangkat saya membeli Handphone Tinut-tinut 😀 😀 😀  (HP Nokia yang hanya bisa terima telepon dan sms).

Perjalanan menuju Dieng dimulai hari Jumat malam. Sekitar pukul 8.30, bis pariwisata yang berkapasitas 45 orang mulai melaju menuju spot pertama yaitu Serayu, Wonosobo. Perjalanan ditempuh kurang lebih 10 jam, saya dan rombongan sampai di Serayu Adventure sekitar pukul 06.00 pagi. Agenda pagi ini adalah rafting atau arung jeram.

Ini merupakan kali pertama saya bermain arung jeram. Sebelum memulai arung jeram, rombongan kami disambut dengan sarapan khas daerah Wonosobo, namanya Nasi Begono dan Tahu Bacem.

IMG_3329
Nasi Begono dan Tahu Bacem, Yummy 😀

Setelah sarapan, saya pun bersiap untuk arung jeram. Arung jeram dimulai dengan melakukan briefing dan pembagian kelompok. Satu perahu terdiri dari 7 orang yang terdiri dari 6 peserta yang didampingi oleh satu pemandu. Kali ini saya satu tim dengan Mas Thoriq, Hani, Awel, dan dua orang bernama Adit (Tapi tidak kembar) 😀 . Isnia memutuskan untuk tidur dan menunggu di titik akhir, kata nya kecapekan 😀

IMG_3343
Tim Kami, Semangat 🙂 🙂 🙂

Dan saat nya arung jeram dimulai. Perlahan-lahan perahu mengarungi sungai Serayu, sesekali kami bersama-sama mendayung. Sebagai orang awam yang baru pertama kali nyobain arung jeram, pikiran saya macam-macam, takut kecebur, takut terbawa arus, takut perahu nya terbalik, pokoknya serba takut. 😥 😥 😥

Cuaca pada saat itu mendukung, cerah namun tidak terlalu panas. Sambil mendayung saya benar-benar menikmati suasana sepanjang sungai. Pohon-pohon menjulang tinggi, Udaranya sejuk, segar, dan bebas polusi. Suasana alam seperti ini tidak akan saya temui di perkotaan. Meski beberapa kali adrenalin saya harus terpacu dan jantung rasa nya mau copot ketika melewati jeram, namun tetap saja saya menikmati setiap momen selama mengarungi jeram sungai Serayu.

Tiba lah perahu kami di jeram terakhir, dari kejauhan terlihat deras nya debit air sungai. Berbeda dengan jeram-jeram sebelumnya, jeram ini benar-benar membuat jantung saya berdebar kencang, ditambah lagi dengan peringatan dari instruktur yang mengatakan jeram ini berbahaya. Saya hanya bisa pasrah seandainya pun terjatuh.

Instruksi pun diberikan

Kiriii… 1… 2… 3…

Kanannn… 1… 2… 3…

Awasssss Hati-hatiiii … Semua nya … Angkatttt Dayunggg (Teriak  Pemandu dari Belakang)

Dannn tiba-tiba…

Byurrrrrrrrrr… Seketika badan saya basah semua terkena air..

IMG_9705
Berhasill… Berhasil Yeay 😀 😀 😀

Jeram nya??? Terlewati dengan baik… Alhamdulillah 😀 😀 😀

Dinginnya air sungai tersebut sejenak terlupakan,tertutupi bahagianya saya yang telah melewati jeram terakhir (ternyata takut yang dibayangkan tidak terjadi. ahahahahahaha :D)

Sayangnya, jeram itu adalah yang terakhir. Selama hampir dua jam mengarungi jeram sungai Serayu, kami sampai di titik akhir arung jeram. Hmmm rasa nya pengen kembali ke titik awal 😀 😀

Seakan tak ingin berpisah dengan Sungai Serayu, Saya putuskan untuk terjun ke sungai menikmati langsung deras dan dingin nya arus sungai… Dinginnnn, Segerrrr, Jadi pengen kembali ke sana. 😀 😀 😀

IMG_9765
Perjuangan bertahan di atas batu 😀

Arung Jeram ini baru permulaan, masih ada bahagia setelah ini…

Dieng… I’m coming… 😀 😀 😀

-SA-

Learn, Write, Success, and Share  

*terima kasih untuk semua yang menjadi bagian dari cerita ini…