Sedih Sedikit, Bahagia Banyak … Part 3 (Habis)

Seusai menikmati pengalaman pertama mendaki gunung (baca:Naik atau Turun ), trip masih berlanjut. Saya dan rombongan harus berjalan kaki sekitar 30 menit untuk sampai di gerbang Desa Sembungan, tempat mobil kami terparkir. Udara masih juga berkabut dan dingin.

Jpeg
Gerbang Desa Sembungan, Desa tertinggi di Pulau Jawa

Sekitar 15 menit berjalan dengan mobil, rombongan sampai di komplek Candi Arjuna. Komplek Candi Arjuna cukup luas dan dikelilingi oleh pemandangan gunung nan menawan  dan menyejukkan mata :D. Saya beristirahat sebentar kemudian mulai berjalan mengitari komplek Candi Arjuna.

IMG_3667.JPG
Komplek Candi Arjuna, Dieng

Saat mengitari komplek Candi Arjuna, mata saya tertuju pada seekor kuda yang sedang makan rumput. Tanpa ragu saya pun menghampiri kuda tersebut. Senangnya saya ketika mengetahui bahwa kuda tersebut bisa di sewa untuk mengelilingi perkebunan di sekitar komplek Candi Arjuna. 😀 😀 😀

Selama dua puluh menit saya menaiki kuda putih yang bernama “Si Putih”. Awal nya saya ditemani oleh si penjaga kuda. Namun beberapa saat sebelum turun, saya berhasil mengendarai sendiri Si Putih… Ayeee 😀 😀 😀

Jpeg
Saya dan Si Putih 🙂 🙂 🙂

Puas mengeksplore komplek Candi Arjuna, perjalanan dilanjutkan menuju Batu Pandang. Bayangan saya mengenai Batu Pandang salah. Perjalanan menuju puncak batu pandang ternyata kurang lebih sama dengan mendaki puncak gunung. Beda nya, untuk menuju puncak Batu Pandang, jalur pendakian sudah berupa tangga dan beberapa meter jalan setapak yang terawat. Kanan kiri nya pun bukan jurang. (Kalau jurang, saya tidak jadi naik 😀 ) .

Pendakian yang cukup melelahkan tersebut itu lagi-lagi terbayar dengan pemandangan di puncaknya. Telaga warna terlihat jelas dari Batu Pandang tersebut. Masya Allah, Bahagia, Takjub dan Syukur memenuhi perasaan saya. Karena takut terpeleset, saya memilih untuk foto dalam keadaan duduk saja. (Masih sayang nyawa) ahahahahhaha 😀

IMG_3680
Berusaha tersenyum, Walau hati Dag Dig Dug 😀 😀 😀

Batu Pandang adalah destinasi objek wisata yang terakhir. Hiks 😥

Tiba saatnya untuk kembali ke homestay dan melakukan persiapan pulang. Sekitar pukul 10.30 rombongan tiba di homestay. Saya  dan anggota rombongan yang lain berkemas dan bersiap untuk pulang.

Sambil menunggu mobil yang akan membawa kami pulang, saya duduk di ruang tamu menikmati dinginnya udara Dieng yang masih agak berkabut ditemani secangkir teh hangat.

Tiba-tiba Kak Jessy, salah satu rombongan menghampiri saya dan beberapa orang yang duduk di ruang tamu homestay

“ Eh, ada yang punya simcard Simpati gak ?” Sambil menjelajah pandang ke satu per satu orang yang berada di ruang tamu.

“ Ini ada kak, pake aja. Ada sinyal kok, Penuh. “ Tangan saya menyodorkan Handphone yang sempat saya beli sebelum pergi ke Dieng

Ehmmm… “ Kak Jessy bergumam

“ Gak apa2 kak, pake ajah. Pulsa nya masih ada kok. Telpon aja kak … ” sembari semakin mendekatkan HP tersebut ke arah Kak Jessy

Enggak, enggak apa-apa. Aku mau pinjam untuk tethering …” Dengan wajah yang agak sulit diungkapkan

Jlebbb…  Ohh… Gak bsa ya kak pake HP ini… “ memandang iba Handphone tinut-tinut ini…

Hiks 😥  (rasa tindu gagdet tiba-tiba menyeruak… Iphone ku… Tab S ku … 😥 😥 😥  )

Isnia dan Mas Thoriq yang duduk di dekat saya menahan tawa. . .

Keingat lagi dech abis kecopetan...

But,

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak….

Kalau tidak kecopetan mungkin saya tidak akan merasakan seru nya arung jeram (baca: Sedih sedikit, Bahagia Banyak… Part 1 ), Indahnya sunrise di Puncak SiKunir (baca: Naik atau Turun ), dan Menawannya pemandangan komplek Candi Arjuna serta Telaga Warna dari Batu Pandang … 😀 😀 😀 Alhamdulillah…

Well, apapun kejadiannya, tetaplah memilih untuk Bahagia. TAMAT

-SA-

Lets Learn, Write, Success and Share It

*Terima kasih untuk semua yang menjadi kenangan bahagia… Special to Mas Thoriq dan Isnia. 🙂

Iklan

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak… Part 2

Setelah memacu adrenalin di jeram sungai Serayu (baca: Sedih Sedikit, Bahagia Banyak… Part 1) dan makan siang, rombongan bergerak menuju Dieng. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Dinginnya udara terasa sesaat ketika Memasuki kawasan Dieng, saya yang tadi nya enggan menggunakan jaket, segera mengenakan baju penghangat tersebut. Setibanya di gerbang, rombongan berhenti sebentar untuk berfoto bersama.

IMG_3463
Rombongan Open Trip Dieng, (Belum semua, namun sudah mewakili) 😀

Homestay kami terletak sekitar 500m dari gerbang tersebut. Setelah berfoto, rombongan menuju homestay untuk meletakkan barang-barang dan istirahat sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan mengunjungi beberapa objek wisata yang telah direncanakan.

Gardu Pandang  Tieng dengan ketinggian 1789 MDPL adalah tujuan pertama setelah makan siang. Bahagianya saya bisa berada di tempat ini. Masya Allah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bila di Pantai berteriak menjadi salah satu alternatif menikmati keindahannya, maka di sini yang bisa saya lakukan adalah menghirup udara dalam-dalam, tersenyum selebar mungkin dan berfoto tentu nya. Hujan yang turun menambah dinginnya udara dan sama sekali tidak mengurangi kesegaran udara. (Gagdet hilang, bukan halangan untuk berfoto, lebih asyik ternyata).

Jpeg
Komentar Isnia “Yiw, sama sekali gak nampak kek orang abis kecopetan” 😀 😀 😀

Waktu juga yang membatasi keberadaan saya di Gardu Pandang ini. Tujuan kami selanjutnya adalah Dieng Plateau Theater. Dieng Plateau Theater adalah semacam bioskop mini yang memutar film sejarah asal muasal Dieng, dan juga daerah di sekitarnya. Walaupun saya tidak menyukai film dokumenter, namun rasa penasaran membuat saya menikmati film berdurasi 30 menit tersebut dari awal sampai akhir. Lumayan menambah wawasan saya tentang sejarah salah satu wilayah di Indonesia. Keluar dari theater, kami disambut oleh hujan gerimis. Hujan yang turun tak menyurutkan niat saya untuk mengabadikan momen di Dieng Plateu Theater ini. Tak lupa saya juga mencicipi kuliner di sekitaran Dieng Plateau yaitu jamur crispy dan kentang goreng khas Dieng. Makan teruss 😀 😀 😀

Jpeg
Ketika hujan tidak menjadi penghalang berfoto 🙂 🙂 🙂

Karena hujan yang semakin deras, ketua rombongan memutuskan segera kembali ke homestay dan menikmati makan malam di sekitaran homestay. Mie Ongklok adalah menu yang saya pilih untuk mengisi perut di malam hari. Mie ongklok merupakan makanan khas Dieng yang cocok sekali dinikmati di tengah dingin nya udara malam hari. Sayang, saya tidak bisa foto, karena pakai Handphone tinut-tinut 😥

Seusai makan malam, rombongan kembali ke homestay untuk istirahat dan menyiapkan diri menjemput keindahan terbitnya mentari pagi dari puncak SiKunir (baca: Naik atau Turun ).

Bahagia ini juga masih belum maksimal, masih ada bahagia lain setelah ini… 🙂 🙂 🙂

-SA-

Learn, Write, Success, and Share

*Terima kasih lagi untuk semua yang terlibat dalam cerita ini… 🙂 🙂 🙂

Sedih Sedikit, Bahagia Banyak … Part 1

Seorang mahasiswi yang telah beberapa kali menginjakkan kakinya di ibukota, KECOPETAN. Iphone 5 dan Galaxy Tab S miliknya berpindah tangan ke pencopet di atas metro mini. Bingung, gelisah, duduk, dan terdiam. Beberapa kali ia hanya mendengar cerita kejamnya transportasi di ibukota, dan baru kali ini dia merasakan nya sendiri. Cuaca pun seakan mendukung, rintik-rintik air hujan mengiringi langkahnya menuju salah satu kamar kos, tempat tinggalnya selama di Ibukota.  Ya kali ini dia merasakannya sendiri, dia lah saya. Segera terlintas dalam benak, saya sudah resmi berkuliah di Jakarta, Ayee 😀

Saat itu, saya tercatat sebagai mahasiswi semester akhir program studi Magister Manajemen Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara yang sedang menempuh tesis. Kedatangan saya ke Jakarta kali ini, untuk menemui dosen pembimbing berkenaan dengan tesis yang saya ambil. Karena sudah kecopetan, saya pun urung untuk bimbingan. Ketika akan mengabarkan hal tersebut ke dosen pembimbing, ternyata bak gayung bersambut dosen pembimbing saya ternyata juga sedang mengikuti conference dan tidak berada di kampus. Sedih??? Sedikit 😥

Ketika bingung mau ngapain di Jakarta, Isnia menawarkan open trip ke Dieng. “Udah yiw, kapan lagi ke Dieng, mumpung ada kesempatan. Budgetnya sama aja kayak ko tinggal disini 3 hari“. Setelah berpikir sejenak, saya mengangguk setuju. Tak lupa, sebelum berangkat saya membeli Handphone Tinut-tinut 😀 😀 😀  (HP Nokia yang hanya bisa terima telepon dan sms).

Perjalanan menuju Dieng dimulai hari Jumat malam. Sekitar pukul 8.30, bis pariwisata yang berkapasitas 45 orang mulai melaju menuju spot pertama yaitu Serayu, Wonosobo. Perjalanan ditempuh kurang lebih 10 jam, saya dan rombongan sampai di Serayu Adventure sekitar pukul 06.00 pagi. Agenda pagi ini adalah rafting atau arung jeram.

Ini merupakan kali pertama saya bermain arung jeram. Sebelum memulai arung jeram, rombongan kami disambut dengan sarapan khas daerah Wonosobo, namanya Nasi Begono dan Tahu Bacem.

IMG_3329
Nasi Begono dan Tahu Bacem, Yummy 😀

Setelah sarapan, saya pun bersiap untuk arung jeram. Arung jeram dimulai dengan melakukan briefing dan pembagian kelompok. Satu perahu terdiri dari 7 orang yang terdiri dari 6 peserta yang didampingi oleh satu pemandu. Kali ini saya satu tim dengan Mas Thoriq, Hani, Awel, dan dua orang bernama Adit (Tapi tidak kembar) 😀 . Isnia memutuskan untuk tidur dan menunggu di titik akhir, kata nya kecapekan 😀

IMG_3343
Tim Kami, Semangat 🙂 🙂 🙂

Dan saat nya arung jeram dimulai. Perlahan-lahan perahu mengarungi sungai Serayu, sesekali kami bersama-sama mendayung. Sebagai orang awam yang baru pertama kali nyobain arung jeram, pikiran saya macam-macam, takut kecebur, takut terbawa arus, takut perahu nya terbalik, pokoknya serba takut. 😥 😥 😥

Cuaca pada saat itu mendukung, cerah namun tidak terlalu panas. Sambil mendayung saya benar-benar menikmati suasana sepanjang sungai. Pohon-pohon menjulang tinggi, Udaranya sejuk, segar, dan bebas polusi. Suasana alam seperti ini tidak akan saya temui di perkotaan. Meski beberapa kali adrenalin saya harus terpacu dan jantung rasa nya mau copot ketika melewati jeram, namun tetap saja saya menikmati setiap momen selama mengarungi jeram sungai Serayu.

Tiba lah perahu kami di jeram terakhir, dari kejauhan terlihat deras nya debit air sungai. Berbeda dengan jeram-jeram sebelumnya, jeram ini benar-benar membuat jantung saya berdebar kencang, ditambah lagi dengan peringatan dari instruktur yang mengatakan jeram ini berbahaya. Saya hanya bisa pasrah seandainya pun terjatuh.

Instruksi pun diberikan

Kiriii… 1… 2… 3…

Kanannn… 1… 2… 3…

Awasssss Hati-hatiiii … Semua nya … Angkatttt Dayunggg (Teriak  Pemandu dari Belakang)

Dannn tiba-tiba…

Byurrrrrrrrrr… Seketika badan saya basah semua terkena air..

IMG_9705
Berhasill… Berhasil Yeay 😀 😀 😀

Jeram nya??? Terlewati dengan baik… Alhamdulillah 😀 😀 😀

Dinginnya air sungai tersebut sejenak terlupakan,tertutupi bahagianya saya yang telah melewati jeram terakhir (ternyata takut yang dibayangkan tidak terjadi. ahahahahahaha :D)

Sayangnya, jeram itu adalah yang terakhir. Selama hampir dua jam mengarungi jeram sungai Serayu, kami sampai di titik akhir arung jeram. Hmmm rasa nya pengen kembali ke titik awal 😀 😀

Seakan tak ingin berpisah dengan Sungai Serayu, Saya putuskan untuk terjun ke sungai menikmati langsung deras dan dingin nya arus sungai… Dinginnnn, Segerrrr, Jadi pengen kembali ke sana. 😀 😀 😀

IMG_9765
Perjuangan bertahan di atas batu 😀

Arung Jeram ini baru permulaan, masih ada bahagia setelah ini…

Dieng… I’m coming… 😀 😀 😀

-SA-

Learn, Write, Success, and Share  

*terima kasih untuk semua yang menjadi bagian dari cerita ini…

Naik Atau Turun

Di sela-sela diskusi bimbingan skripsi, tiba-tiba saya iseng untuk bertanya:

“ Man, mana lebih susah naik atau turun gunung? “

Dengan agak sedikit terheran Herman menjawab “ Susah naik gunung lah, Bu. Butuh perjuangan.”

“ Menurut saya, lebih susah turun. Emang kamu udah pernah naik gunung? “ (Edisi dosen tidak mau disalahkan :D)

“ Udah Bu, lebih susah naik, Capek. Kalau turun, ya tinggal turun ajah khan? “

Kami sempat berdebat mengenai naik dan turun gunung ini, dan melanjutkan bimbingan skripsi.

Tahun lalu, sekitar februari 2015, saya mengikuti open trip dengan tujuan Dieng, Negeri Di atas Awan. Open Trip ini dijadwalkan selama tiga hari dua malam. Selama trip ini saya ditemani Isnia dan Mas Thoriq beserta sekitar 40 orang lainnya dalam satu rombongan. Salah satu hal yang paling menarik dari open trip ini adalah menyaksikan matahari terbit dari puncak SiKunir yang berada di ketinggian 2263 MDPL

Pendakian SiKunir merupakan pengalaman pertama saya naik gunung.Tepat jam 3 dini hari, rombongan bersiap-siap dari homestay menuju titik awal pendakian. Titik awal pendakian berada di Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, rombongan sampai di titik awal pendakian.

Jpeg
Titik Awal Pendakian SiKunir, Desa Sembungan

Cuaca di daerah Dieng pada saat itu, kurang bersahabat. Gerimis sejak malam menyebabkan jalur pendakian menjadi licin. Tracking yang harus dilalui gelap, penerangan berasal dari senter para pendaki. Beruntungnya ada Mas Thoriq dan Isnia yang dengan sabar menemani saya. Pelan tapi pasti saya berjalan naik. Terkadang berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Dalam hati saya berkata, “Ternyata naik gunung ini seperti naik tangga ya, sudah ada jenjang2 nya”. Sepanjang pendakian, beberapa kali Mas Thoriq berkata “Sebentar lagi sampai”, hal ini membuat saya tetap semangat di saat ngos-ngos an. Walau akhirnya saya tahu itu hanya sugesti agar tetap semangat. 😀 😀 😀

Dengan segala perjuangan selama 45 menit. Berkeringat walaupun cuaca dingin, kami sampai di puncak SiKunir. Hari itu kami kurang beruntung, Matahari yang terbit tertutup kabut. Tetapi bagi saya yang pertama kali mencapai puncak SiKunir (Mas Thoriq dan Isnia sudah beberapa kali), melihat pemandangan dari ketinggian, Hilang semua lelah saya… Masya Allah, Indah nya ciptaan Mu, Sempurna.

Jpeg
Dari Ketinggian 2263 MDPL, SiKunir, Dieng

Kami berada di Puncak Sikunir sekitar 30 menit. Waktu di puncak tersebut saya habiskan untuk berfoto ria :D. Rasa nya bahagia sekali, sampai lupa kalau minggu depan deadline pengumpulan thesis 😀

Ketika asyik berfoto, saya melihat salah satu dari rombongan membawa bendera. Muncul lah ide untuk berfoto memegang bendera. Karena saat itu saya di puncak, saya putuskan untuk turun dan meminjam bendera. Perlahan-lahan saya bergerak turun,

1…..(Pelan-pelan sambil cari pegangan)

2…..(Dapat pegangan, cari tapak kaki selanjutnya)

3…..(Selangkah lagi sampai tujuan)

dan

Semua mata tertuju pada saya berbarengan dengan Gedubrakkkkkk… saya jatuh untuk pertama kali nya karena terpeleset… (Sakit nya gak seberapa, malu nya itu loh) 😥 😥

Gak apa-apa dech, yang penting bisa foto pegang bendera 🙂 🙂 🙂

Learn, Write, Success, and share
Bangga menjadi bagian dari Indonesia tercinta

Ternyata kejadian jatuh itu masih ada episode selanjutnya. Saat perjalanan menurun, Mas Thoriq berinisiatif membuat video untuk pendakian menurun ini. Ini karena saya terus saja mengomel. Saya baru tahu bahwa pendakian subuh tadi melewati jalan setapak yang kanan kiri nya jurang. Yang saya jadikan pegangan adalah pohon ataupun akar pohon. Saya berandai-andai jika harus mendaki saat matahari sudah terbit dan tracking nya terlihat, lebih baik saya menunggu di awal pendakian saja. 😀

Mas Thoriq terus saja merekam perjalanan saya menurun setapak demi demi setapak. Sambil terus bercanda mengalihkan pikiran ke badan yang sudah mulai lelah, tiba-tiba…

Bukkkk…. Gedebukkkk…. Auuuuu….

Saya terduduk cantik di turunan pendek yang saya lalui… Untuk kedua kali nya saya jatuh. Saat itu rasanya campur aduk, antara mau nangis karena sakit, ketawa karena lucu, atau kesel. Isnia yang berada di belakang saya, seketika balik badan dan menutup mulut menahan ketawa. Sementara Mas Thoriq, tetap aja merekam sambil menahan tawa juga (Tegaaa kalian berdua, bukannya bantuin 😥 ). “Bisa gak, turun nya merosot aja” Celetuk saya sambil meringis.

Saya yang jatuh sendiri, berusaha bangun sendiri juga. Mas Thoriq dan Isnia memberi semangat sambil tetap ketawa. Kemudian perjalanan turun dilanjutkan. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya sampai juga di titik awal pendakian. Turun dari puncak menghabiskan waktu sekitar 1 jam 15 menit, lebih lama 30 menit dari pendakian naik.

Alhamdulillah, pengalaman naik gunung pertama kali selesai.

Sesaat sebelum bimbingan berakhir, Herman menatap saya sambil tersenyum kemudian berkata:

“Bu, sebenarnya mau apapun jawabannya tidak perlu diperdebatkan kan, seperti yang pernah Ibu bilang, setiap orang punya sudut pandang nya masing-masing.”

Jlebbb…  Iya Sih… “ saya menatap mata nya sejenak dan tersenyum juga.

Lets Learn, Write, Success, and Share It

-SA-

*Semua pemeran dalam cerita ini asli, Terima kasih untuk kalian semua J J J

Teruntuk Kamu …

Haiii…

Ini postingan kedua setelah yang pertama 🙂

Tulisan ini special ditujukan untuk dua orang yang cukup berjasa setelah Allah, yang membakar semangat untuk menulis di blog.

Dia seorang muslimah berhijab yang senang jalan-jalan (pernah dpet julukan ” Backpacker Syar’i”), karyawan swasta di ibukota yang selalu semangat dan ceria dalam menjalani hari-hari nya. Teman diskusi asyik sampe berjam-jam, dan paling bisa membuat senyuman diantara airmata. Orang pertama di awal tahun ini yang komporin saya untuk nulis, bikin blog, dan jadi lah blog ini. Selalu ada cerita yang dia bagikan di  alaniadita.

Dia juga seorang muslimah berhijab yang energik, teman seprofesi yang “katanya” baru kecanduan membaca. Selalu menampilkan sudut pandang berbeda ketika berdiskusi, Antusias untuk hal-hal baru sampai akhirnya saya terbawa-bawa antusias nya (Yang ini dijamin positif hal baru nya). Gara-gara baca postingan nya di journal of erliza oktari yang menyebutkan nama lengkap saya, membuat jari ini semakin semangat untuk menulis. Dan ini lah hasil nya.

Terima kasih untuk kedua kesayangan ini, selalu ada space spesial di hati dan juga pasti nya di blog ini. Tetap Istiqomah, Semangat menjadi yang baik dan membaikkan, dan Selalu dalam Lindungan Allah SWT. Aamiin

Exactly, I love you, Because Allah… -SA-